Warga MBR Ahli Fungsikan Gunungan Sampah Jadi TPST

Warga MBR Ahli Fungsikan Gunungan Sampah Jadi TPST

Mediabogor.id, BOGOR- Pengurus Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pada Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Mutiara Bogor Raya (MBR) berbuah hasil.

Dengan semangat membenahi lingkungan itulah kemudian kawasan TPST terus berkembang hingga pada prosesnya menjadi sistem pertanian teritegrasi berbasis bebas sampah.

Diketuai oleh Ketua Pengelola TPST MBR Bandung Sahari warga, anggota dan pengurus mulai membenahi lahan Fasilitas Umum (Fasum) seluas sekitar 1200 M2 yang dipenuhi oleh gunungan sampah menjadi TPST.

Sampah-sampah rumah tangga mulai dari sampah organik dan anorganik mulai dibersihkan dan dipilah.

“Tanah yang kita injak sekarang ini awalnya adalah gunungan sampah, mulai dari spring bed, plastik-plastik, pampers dan lainya semua ada disini, kemudian sejak beberapa tahun lalu mulai dibenahi dengan gotong-royong,” ucap Sulistyawati Pengawas TPS3R MBR saat ditemui di lokasi, Selasa (05/01/2021).

Pemilahan sampah dilakukan untuk mengelompokan antara sampah yang bisa diolah, didaurulang dan sampah yang dibuang ke TPA.

Untuk sampah organik seperti sisa makanan dipilah untuk selanjutnya diurai dengan menggunakan larva lalat BSF.

“Dari pengolahan sampah ini menghasilkan magot dan kasgot, magotnya bisa digunakan untuk pakan ternak dan kasgotnya itu untuk media tanam,” kata Sulis sambil menunjukan tempat pengolahan sampah.

Dari sekitar 800 kilogram hingga 1 ton sampah yang masuk setiap hari hampir sebanyak lebih dari 400 kilogram sampah organik diolah dengan menggunakan larva BSF atau magot. Setelah pengolahan sampah organik dengan magot berjalan kemudian muncul inisiasi untuk melakukan budidaya lele.

Sehingga magot yang dihasilkan selain dijual kepada para peternak, magot ini juga diberikan untuk pakan lele.

Seiring berjalannya waktu pemanfaatan lahan juga meluas kebidang petanian dengan menanam sayur-sayuran.

Dengan begitu hasil dari pengolahan sampah organik yang menghasilkan magot dan kasgot bisa terserap.

“Magotnya untuk pakan ternak dan kasgotnya untuk media tanam, semua terserap disini disamping kita juga menjual ke luar ketika ada yang membutuhkan atau ketika ada petanu yabg perlu bisa ambil kesini juga gratis,” ujarnya.

Melihat semangat itu Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor masuk untuk melakukan interfensi dengan memberikan pendampingan.

Setelah itu kemudian dibentuklah Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah MBR yang memberdayakan ibu-ibu disekitar lokasi.

Dari sanalah DKPP Kota Bogor mulai memberi bantuan lewat Program Pangan Lestari.

Melalui program ini KWT Berkah MBr menerima bantuan berupa peralatan serta tujuh jenis bibit sayuran. Saat ini sistem pertanian pun terus dikembangkan agar bisa mencapai hasil maksimal.

“Disini ada berbagai jenis tanaman mayoritas itu sayur-sayuran, kita juga ada hidroponik kemudian saya mencoba menanam sayur dengan bagian atasnya di krodong atau ditutuo dengan menggunakan jaring tujuaamnya utnuj antisipasi hama agar hasilnya maksimal,” kata Ketua KWT Berkah MBR Katulampa Kasiyati.

Sejauh ini kata Kasiyati hasil yang dicapai cukup menggembirakan meskipun belum maksimal.

Dari hasil panen KWT ini pun dipanen bersama warga dan dibagikan keoada warga disamping ada beberapa sayuran yanh sijual ke masyarakat sekitar.

“Sejauh ini hasilnya sangat membantu, setidaknya minimal bisa memenuhi kebutuhan sayur,” katanya.

Yati menjelaskan bahwa KWT adalah bagian dari TPST MBR yang kini dikembangkan sebagai kawasan pertanian lerkotaan terintegrasi berbasis bebas sampah.

Sekitar akhir November 2020 lalu KWT Berkah MBr mendapat bantuan dari Bank Indonesia (BI).

Bantuan dari BI tersebut berupa screen house untuk mengembangkan pertanian hydroponic beserta perlengkapan lengkap dengan bibit yang akan ditanam yang merupakan proyek percontohan Pemkot Bogor – Bank Indonesia Jabar dalam bentuk pertanian perkotaan terintegrasi berbasis sampah  atau zero waste integrated urban farming.

Saat ini didalam screen house berukuran 400 M2 tersbut terdapat sekitar 1000 lubang tanaman bawang merah dan 400 sayuran.

Diperkirakan setelah masa tanam 60-70 hari bawang merah sudah dapat dipanen.

Pengurus TPS3R MBR Titin Sri Suhartini mengatakan bahwa berangkat dari semangat untuk mengentaskan sampah menjadi solusi terhadap lingkungan yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini pun mulai membuahkan hasil.

Diawali dari memilah sampah hingga menjadi sistem pertanian yang twrintegrasi.

“Sampah ini akan kita olah dengan cara dipilah menjadi tiga bagian yan pertama sampah organik kedua sampah recydu dan sampah ekonomis,” ujarnya yang juga anggota KWT Berkah MBR.

Untuk sampah ekonomis yang sudah dipilah akan dijual ke tempat penampungan barang rongsokan, kemudiam sampah organik dional dengan cara bioconversy dan sampah recydu merupakan sampah yang tidak bisa diolah dan akan dibuang ke tempat pembuangan akhir.

“Sampah organik ini kita olah dengan cara biokonversi jadi nanti biokonversi ini akan menghasilkan dua produk utama yang pertama itu larva bsf yang bisa menjadi sumber protein untuk hewan peliharaan, jadi kita kita piara lele, ayam, burung puyuh itu mereka mengkonsumsi larva  bsf sebagai siklus lanjutan pengolahaan sampah,” katanya.

Hasil yang kedua adalah pupuk kompos organik yaitu kasgot atau bekas magot yang disalurkan ke demplot demplot KWT.

“Dari siklus berkelanjutan yang diawali dari pengolahan samoah itulah kemudian muncul nama Kampung Ramah Lingkungan MBR,” imbuhnya. (Nick)

Berita Terkait

Berikan Komentar