Sindangrasa Siap Sambut Jalur R3, Lurah Optimistis Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi dan Solusi Kemacetan Tajur

Mediabogor.co, BOGOR – Pemerintah Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Bogor Timur, memaparkan secara menyeluruh potensi wilayah, tantangan pembangunan, hingga kesiapan masyarakat dalam menyambut kelanjutan proyek strategis Jalur Regional III (R3). Paparan tersebut disampaikan langsung oleh Lurah Sindangrasa, Muhamad Badru Jaman, Selasa (9/6/2026).

Dalam pemaparannya, Badru Jaman mengulas berbagai aspek penting mulai dari tata guna lahan, kondisi demografis, pengelolaan lingkungan, mitigasi bencana, hingga prospek pertumbuhan ekonomi yang diyakini akan meningkat setelah Jalur R3 terhubung secara penuh.

Kelurahan Sindangrasa memiliki luas wilayah sekitar 106 hektare dengan dominasi kawasan permukiman. Sementara itu, lahan pertanian seperti sawah dan kebun tersisa dalam jumlah yang relatif kecil.

“Keberadaan sawah dan kebun yang sedikit ini menggambarkan bahwa masyarakat kita tidak memiliki tradisi yang kuat di bidang pertanian. Karena itu, program urban farming perlu terus diperkuat agar warga tetap dapat memanfaatkan lahan terbatas yang tersedia,” ujar Badru Jaman.

Meski memiliki lahan pertanian yang minim, Sindangrasa memiliki potensi sumber daya air yang cukup besar karena diapit oleh dua sungai besar dan memiliki sejumlah titik mata air. Namun kondisi geografis yang berada di dataran rendah juga menimbulkan tantangan berupa potensi banjir limpahan yang membutuhkan penguatan sistem drainase.

Berdasarkan data semester II tahun 2025, jumlah penduduk Sindangrasa mencapai 16.967 jiwa dengan 3.869 unit rumah. Pertumbuhan penduduk tersebut turut berdampak pada peningkatan volume sampah yang mencapai sekitar 11,3 ton per hari.

Saat ini, armada pengangkut sampah resmi baru mampu mengangkut sekitar 3 ton per hari. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, masyarakat didorong mengembangkan pengelolaan sampah mandiri melalui bank sampah dan pemilahan sampah organik maupun anorganik.

“Sebagian besar sisanya dikelola melalui program inovatif masyarakat, termasuk bank sampah yang terus kami dorong pengembangannya,” jelasnya.

Di sektor ekonomi, Sindangrasa memiliki 4.187 wajib pajak dengan potensi fiskal mencapai Rp2,7 miliar. Realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga saat ini telah mencapai sekitar 67,5 persen atau senilai Rp1,75 miliar. Selain itu, terdapat 940 pelaku UMKM yang terus mendapatkan pembinaan dan dukungan agar mampu berkembang dan naik kelas.

Salah satu fokus utama dalam pemaparan tersebut adalah proyek Jalur Regional III (R3) yang akan melintasi wilayah Sindangrasa. Proyek tersebut dinilai akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi sekaligus solusi mengurai kemacetan yang selama ini terjadi di kawasan Jalan Raya Tajur.

“Saat ini potensi ekonomi kita seolah berada di dalam karena aksesnya belum optimal. Ketika Jalur R3 sudah terkoneksi, kebangkitan ekonomi Sindangrasa akan sangat luar biasa,” kata Badru optimistis.

Terkait proses pembebasan lahan, Badru menegaskan bahwa komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat berjalan kondusif. Menurutnya, mayoritas warga justru menyambut positif pembangunan jalur tersebut dan menantikan realisasinya.

“Masyarakat mendukung penuh. Mereka bahkan sering bertanya kapan proyek ini akan direalisasikan. Kami terus memastikan seluruh data bidang tanah terverifikasi agar tidak ada hak warga yang terlewat,” tegasnya.

Mengenai dampak pembangunan terhadap kawasan wisata Kuntum, pihak kelurahan mengaku belum menerima informasi resmi terkait rencana jangka panjang pengelola wisata tersebut. Namun demikian, keberadaan destinasi wisata itu selama ini dinilai memberikan kontribusi positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan lingkungan sekitar.

Sebagai langkah antisipasi kemacetan selama proses pembangunan berlangsung, Kelurahan Sindangrasa bersama pihak terkait juga menyiapkan optimalisasi jalur alternatif menuju Ciawi, disertai pemasangan rambu-rambu petunjuk serta lampu penerangan jalan di sejumlah titik rawan kemacetan.

Di bidang pembangunan wilayah, Sindangrasa mendapat dukungan anggaran dari berbagai sumber. Pada tahun 2025, pembangunan didanai melalui APBD Kota Bogor, ditambah intervensi APBN sebesar Rp140 juta serta kontribusi CSR dan swadaya masyarakat senilai Rp100 juta.

Selain fokus pada pembangunan, pemerintah kelurahan juga terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam. Berdasarkan data kelurahan, sejumlah ancaman yang kerap terjadi meliputi tanah longsor, tembok runtuh, pohon tumbang, banjir limpahan hingga rumah ambruk.

“Kami terus mengimbau warga melalui jaringan RT dan RW untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan lingkungan, terutama menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana yang ada,” pungkas Badru Jaman.

Berita Terkait

Berikan Komentar