Koalisi Mahasiswa IPB Keluhkan Fasilitas Rusak dan Biaya UKT Mahal. Rektor Alim Setiawan Malah Fokus Bisnis SPPG di Lingkungan Pendidikan

Mediabogor.co, BOGOR – Gelombang keresahan melanda mahasiswa IPB University menyusul temuan ketimpangan tajam antara biaya pendidikan yang terus meroket dengan realitas fasilitas di lapangan. Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menyoroti kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap tahun yang dinilai kian “mencekik”, namun tidak dibarengi dengan fasilitas dan pemeliharaan infrastruktur yang layak. Di berbagai sudut kampus, baik di wilayah Dramaga maupun Baranangsiang, pemandangan gedung yang compang-camping dan fasilitas seperti toilet yang tak terurus menjadi bukti nyata pengabaian hak-hak mahasiswa sebagai pemangku kepentingan utama di institusi pendidikan tersebut.

Koalisi Mahasiswa Peduli IPB menyatakan prihatin dan sangat kecewa melihat arah kebijakan ugal-ugalan tanpa pertimbangan kredibel ala Rektor Dr Alim Setiawan dan jajaranya yang secara agresif mengalihkan fokus institusi ke arah pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pada Mei 2026, rektorat mengumumkan rencana pembangunan lebih dari dua unit dapur SPPG di Bogor untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun dibungkus dengan narasi kontribusi nasional dan experiential learning bagi mahasiswa, kebijakan ini dipandang sebagai bentuk pergeseran tujuan utama pendidikan menjadi alat bisnis semata.

Rektor Alim menyatakan bahwa SPPG merupakan model ekosistem yang terintegrasi untuk melibatkan petani lokal dan rantai pasok dalam negeri. Namun, koalisi memberikan penilaian bahwa rektorat sedang bertransformasi menjadi penyedia jasa katering skala besar (food service provider) daripada institusi pendidikan yang mencetak ilmuwan dan inovator. Alim Setiawan dipandang lebih sebagai seorang manajer bisnis daripada seorang pendidik, di mana kebijakan kampus diarahkan untuk mengejar kontrak-kontrak pengadaan dengan pemerintah melalui yayasan-yayasan di bawah IPB. Koalisi Mahasiwa menanyakan komitmen dan narasi mulia institusi pendidikan untuk mencetak generasi bangsa kini dinilai telah tereduksi oleh kepeminpinan yang tidak tepat di era Alim menjadi sekadar alat bisnis dan meteril semata.

Ketua Koalisi Mahasiwa, Khairul menjelaskan “kita memandang bahwa orientasi rektorat saat ini telah bergeser jauh dari esensi akademis dan semangat inovasi di era kepemimpinan rector-rektor terdahulu, di mana nilai-nilai pendidikan mejadi sarana pelayanan pengabdian dan inovasi akademik. Ia menambahkan bahwa sekarang IPB telah dikomersialisasi secara agresif tanpa memedulikan beban ekonomi mahasiswa yang semakin berat.

Keterlibatan kampus dalam SPPG dikhawatirkan akan:

1. Mengalihkan Sumber Daya: Dana dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk perbaikan fasilitas pendidikan dan riset primer justru tersedot ke pengelolaan operasional dapur dan logistik makanan.

2. Eksploitasi Mahasiswa: Konsep experiential learning yang ditawarkan dikhawatirkan hanya menjadi kedok untuk menggunakan tenaga mahasiswa sebagai pekerja operasional dalam bisnis pemenuhan gizi dengan bayaran yang tidak layak atau bahkan tanpa bayaran.

3. Komersialisasi Lahan: Penggunaan area kampus untuk pembangunan dapur industri SPPG semakin mempersempit ruang terbuka hijau dan ruang interaksi sosial mahasiswa yang sudah sangat terbatas.

Kualitas dan gaya kepemimpinan Alim Setiawan pun mendapatkan kritik keras dengan dilayangkannya raport merah dari para koalisi mahasiswa, yang menjulukinya sebagai “Rektor Give Away”. Selama kepemimpina IPB dibawah beliau, ia sama sekali tidak menghadirkan inovasi maupun aksi konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan civitas akademika khususnya mahasiwa, melainkan hanya “panen citra” atas hasil kerja rektor sebelumnya Prof Arif Satria di media sosial dan massa agar terlihat telah bekerja. Fondasi prestasi yang telah diletakkan oleh rektor-rektor sebelumnya sekarang runtuh dengan inkompetensi dari kepemimpinan, yang mereduksi institusi Pendidikan menjadi alat kormersialisasi. Koalisi mahasiwa inginkan perubahan baru yang relevan bagi kebutuhan mahasiswa saat ini.

Sementara itu, Afif salah satu mahasiswa IPB University menuntut hentikan Komersialisasi Pendidikan melalui Proyek SPPG: Mendesak Rektor Alim Setiawan dan jajaran untuk mengembalikan fokus institusi pada pemenuhan hak-hak akademis mahasiswa. Koalisi Mahasiwa bersama Keluarga Besar ORMAWA menolak KERAS reduksi IPB menjadi “kontraktor” atau alat bisnis melalui Satuan Pelayanan Penyiapan Gizi (SPPG) demi program Makan Bergizi Gratis (MBG), jika hal tersebut mengabaikan kesejahteraan domestik civitas akademika.

“Restorasi Fasilitas Kampus Secara Menyeluruh: Menuntut perbaikan segera terhadap infrastruktur yang terbengkalai, mulai dari renovasi toilet yang tidak layak hingga perbaikan gedung-gedung yang rusak (compang-camping) di wilayah Kampus Dramaga maupun Baranangsiang. Fasilitas pendidikan harus dikembalikan fungsinya sebagai penunjang belajar, bukan sekadar pajangan fisik yang tak terurus,”kata dia

“Kembalikan Khittah Rektor yang Amanah: Menuntut Rektor Alim Setiawan untuk membuktikan integritas kepemimpinannya langsung dengan mendengar suara mahasiswa, memahami realitas di lapangan. Atau jika tidak sangup untuk turun dan berhenti menjadikan IPB sebagai batu loncatan citra politik maupun bisnis di institusi pendidikan,”tegasnya.

Berita Terkait

Berikan Komentar