
Kinerja Tiga Tahun Bima – Usmar Dinilai Cenderung Sporadis
mediabogor.com, Bogor – Tiga tahun sudah, Bima Arya Sugiarto dan Usmar Hariman menjabat sebagai Wali dan Wakil Walikota Bogor semenjak dilantik pada tahun 2014 yang lalu. Memang banyak yang sudah dikerjakan oleh kedua Pemimpin tertinggi di Kota Bogor tersebut, diantaranya tentang penataan Kota yang dianggapnya sukses besar seperti pembangunan taman – taman Kota seperti Taman Heulang, Taman Ekspresi, Taman Corat – Coret serta Taman Sempur, pelestarian, pembangunan lawang salapan yang kini menjadi Icon terbaru Kota Bogor.
Namun, dari sekian pembangunan itu terasa tidak berarti jikalau beberapa prioritas yang pernah di janjikan oleh Bima maupun Usmar yang menyangkut hajat masyarakat Kota Bogor belum terealisasikan seperti
Penataan Transportasi, Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), Pengelolaan Sampah, Perizinan, Pengentasan Kemiskinan, dan Reformasi Birokrasi. Melihat Hal itu, pengamat Kebijakan Publik, Yusfitradi, membuka suaranya terhadap kepemimpinan Bima – Usmar, yang dinilainya masih jauh dari sebuah keberhasilan.
“Menurut saya hingga saat ini, tidak banyak program- program walkot bogor belum menyentuh enam skala prioritas, program – program yang dilaksanakan Bima arya lebih cenderung sporadis dan hanya dipermukaan tidak menyentuh hal – hal yang menjadi permasalahan dasar penataan kota bogor, bahkan cenderung lebih banyak pencitraannya daripada melaksanakan program – program yang essensial. Contoh kongkrit adalah sampah yang hingga saat ini menimbulkan permasalahan baru, karena dibuang ke TPA galuga yang akhirnya tidak tertangani bahkan sangat menggangu lingkungan, begitupun kemacetan, yang dirasakan masyarakat tidak ada perubahan, karena tidak pernah menata alat transportasi dan Jalan Rayanya, yang ada malah terkesan sangat politis dengan program SSA nya yang juga tidak bedampak signifikan pada pengurangan kemacetan karena jalan disekitarnya tidak mendapat perhatian,” papar Yusfitradi saat dikonfirmasi mediabogor.com melalui pesan singkat.
Selain itu, Lanjut Yusfitradi, dari segi Perizinan misalnya, tidak sedikit yang terkesan sangat pragnatis, di mana dibawah kepimpinan Bima – Usmar banyak izin – izin bangunan – yang berorientasi bisnis yang menggangu arus lalu lintas.
“Seperti giant darmaga, jogja departemen store darmaga dan bangunan hotel yang mengisi lahan – lahan hijau yang ada di Kota Bogor,” lanjutnya.
Tak hanya itu Yusfitradi menyoroti permasalah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sampai saat ini tiga tahun kepimpinan Bima – Usmar belum ada solusinya.
“Permasalahan PKL adalah permasalahan ketegasan dan penyiapan lahan pengganti yang layak dan murah, selama tidak ada ketegasan dari aparatur yang berkompeten, bahkan masih dipungut “pajak mangkal” maka selama itu pula PKL akan tetap menjamur. Dibenahi seperti apapun, ketika lahan pengganti yang layak, murah dan aksesnya mudah tidak tersedia, maka selama itu pula PKL akan terus tidak terkenndali, karena semua ini menyangkut hajat hidup masyarakat luas khusunya Kota Bogor,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini Juga Yusfitradi memberikan penilaian terhadap Bima – Usmar yang sudah tiga tahun menjabat Kota Bogor.
“Saya secara obyektif menyatakan bahwa tiga tahun kepemimpinan Bima Arya Sugiarto baru sampai ke permukaan, belum mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang kini mendera masyarakat kota bogor, walaupun memang saya sepakat tidak cukup waktu yang singkat untuk memperbaiki tata kelola di kota bogor, namun ketika pelaksanaan program tidak mempunya blue print yang jelas, dan tidak menggunakan basis riset yang akurat, maka berapa tahun pun penataan kota bogor tidak akan pernah tercapai,” tutup Yusfitradi. (AW)
Berikan Komentar