IPB University dan Kampoong Ecopreneur Kolaborasi Bangun Living Lab Keberlanjutan di Leuwisadeng

Mediabogor.co, BOGOR — Yayasan Kampoong Ecopreneur (KE) resmi menandatangani nota kesepahaman dengan IPB University dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penerapan inovasi.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh pendiri Yayasan Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, bersama Wakil Rektor IPB University Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama dan Alumni, Prof. Dr. Iskandar Z. Siregar.

Jamil yang juga merupakan alumni sekaligus mahasiswa Program Doktor Manajemen dan Bisnis IPB mengatakan kerja sama tersebut memiliki makna emosional bagi dirinya.

“Ini momen yang sangat mengharukan. Kampus ini yang menempa perjalanan hidup saya, mulai S-1 hingga kini,” ujar Jamil, Selasa 26 Mei 2026.

Melalui kolaborasi ini, kawasan Kampoong Ecopreneur di Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, akan dijadikan living lab bagi IPB University. Kawasan yang berdiri di atas lahan wakaf seluas 1,7 hektar itu dirancang menjadi pusat pengembangan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga inovasi berbasis keberlanjutan.

Terdapat tiga zona utama yang akan dikembangkan di kawasan tersebut, yakni Kampoong Spiritual berbasis pesantren wirausaha atau tahfizhpreneur, Kampoong Hening untuk terapi berbasis alam atau ekoterapi, serta Kampung Niaga yang fokus pada pengembangan bisnis berbasis wakaf.

Prof. Iskandar menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, konsep ecopreneur yang diusung Yayasan Kampoong Ecopreneur sejalan dengan agenda strategis IPB University terkait keberlanjutan.

“Pada tahun ini kita akan membuat Sustainability Week, minggu tentang keberlanjutan, yang sangat erat kaitannya dengan ecopreneur,” kata Iskandar.

Ia menambahkan, IPB University juga akan melibatkan sejumlah mitra internasional dalam agenda tersebut.

“Kita mengundang mitra-mitra dari luar negeri yang dekat dengan IPB untuk hadir di minggu tersebut,” ujarnya.

Pembangunan kawasan Kampoong Ecopreneur sendiri telah dimulai sejak tahun lalu. Saat ini, aula masjid sementara telah rampung dibangun, sementara asrama santri masih dalam tahap pengerjaan.

Selain itu, Yayasan Daarut Taufiq Peduli turut menandatangani kerja sama untuk menyalurkan pembiayaan sekitar Rp1 miliar bagi program pemberdayaan masyarakat di kawasan tersebut.

Jamil menjelaskan, program pemberdayaan itu akan mengajak masyarakat menanam ubi untuk kebutuhan ekspor sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

“Lewat pemberdayaan ini, warga akan diajak menanam ubi untuk keperluan ekspor, sehingga masyarakat bisa menjadi orang yang kaya spiritual dan material,” katanya.

Pada tahun ini, Yayasan Kampoong Ecopreneur juga mulai menerima santri tahfizhpreneur angkatan pertama sebanyak 48 orang. Para santri dijadwalkan mulai menempati kawasan tersebut pada September mendatang.

Menurut Jamil, para santri tidak hanya didorong menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap tadabur alam dan jiwa kewirausahaan.

Ia berharap kawasan Kampoong Ecopreneur di Leuwisadeng dapat menjadi proyek percontohan yang nantinya dikembangkan di berbagai daerah lain di Indonesia.

“Insyaallah akan kita duplikasi di banyak tempat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berikan Komentar