Rusaknya Generasi: Buah Sistem yang Menyingkirkan Agama

Oleh Pietra Kharisma

Ada yang keliru, dan ini bukan ‘sekadar kenakalan’ remaja. Belum lama dunia maya dibuat tercengang oleh kasus dugaan kekerasan seksual bahkan dilakukan secara kolektif di ruang akademik. Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan mahasiswi hingga dosen. Kasus ini terungkap setelah tangkapan layar percakapan para terduga pelaku viral di media sosial. Sementara di kampus ternama lainnya, Fakultas Tambang-ITB dalam kegiatan kemahasiswaan Orkes Semi Dangdut menyanyikan lagu berisi lirik yang menjurus pada pelecehan terhadap perempuan. Disusul pula oleh kasus tawuran pelajar SMP di Dramaga yang menewaskan seorang anak (15 tahun) dengan senjata tajam di tangan mereka. Ini bukan lagi sekadar “perkelahian anak-anak”. Ini adalah kekerasan terstruktur dalam jiwa yang masih belia.

Tiga peristiwa yang terjadi bersahutan berdekatan waktu menggambarkan potret utuh wajah generasi hari ini: brutal, permisif, dan kehilangan kompas moral.
Ini bukan kebetulan. Inilah pola hasil dari pendidikan sekularisme. Indonesia sedang menyaksikan krisis generasi yang lahir dari sistem yang gagal membentuk manusia; Sistem pendidikan yang lebih fokus pada capaian akademik, gelar, dan kompetensi teknis, namun abai pada pembentukan kepribadian. Mungkin bisa melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tapi tumpul secara moral.

Dalam paradigma sekuler, aturan agama dipinggirkan dari kehidupan bahkan tak sedikit kalangan yang alergi menyatukan ilmu dunia bersama wahyu-Nya. Agama hanya menjadi ritual privat, bukan lagi landasan berpikir dan bertindak. Nilai benar dan salah menjadi relatif & fluktuatif, tidak lagi diukur dari wahyu, melainkan hawa nafsu dari norma sosial yang terus berubah. Tak heran jika lagu lama yang dulu dianggap “biasa saja” kini baru disadari bermasalah.

Mirisnya lagi, budaya populer yang sarat kekerasan dan seksualisasi dibiarkan meresap tanpa filter-bahkan difasilitasi sedemikian rupa oleh media yang berada pada genggaman pemerintah. Remaja bebas bablas mengonsumsi konten brutal dan pornografis sejak dini, jauh dari pembinaan iman yang kokoh. Tak disadari missed informasi ter-input, mereka belajar bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah, dan bahwa tubuh perempuan adalah objek candaan.

Di sisi lain, lingkup politik terkecil yakni; keluarga sebagai benteng pertama juga melemah. Orang tua disibukkan oleh tuntutan ekonomi serba kapitalistik, hingga pengasuhan seolah diserahkan pada gawai dan lingkungan. Negara hanya hadir sebatas regulator, bukan pembina peradaban.

Padahal dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi pembentukan syakhsiyah (kepribadian) Islam. Seorang anak sejak kecil ditanamkan akidah sebagai pondasi berpikir, serta diajarkan halal-haram sebagai standar perbuatan. Dalam sejarah pendidikan Islam, remaja tidak hanya paham mana dan apa saja yang benar, tapi juga ada kesadaran diri terikat untuk melakukannya karena takut akan pengawasan Allah.

Islam juga tidak akan pernah membiarkan lingkungan rusak. Maka salah satu tugas negara dalam sistem Islam bertanggung jawab menjaga masyarakat dari konten yang merusak, menutup rapat ‘pintu-pintu’ yang mengarah pada zina dan kekerasan, serta memberikan sanksi tegas yang memberi efek jera. Pendidikan, media, dan hukum berjalan dalam satu visi, yakni membentuk manusia yang bertakwa: Inilah yang hilang hari ini.

Ketika remaja dengan mudahnya membawa celurit ke area publik tanpa rasa takut, ketika para mahasiswa yang idealnya lebih bermoral tapi justru menjadikan pelecehan sebagai candaan tanpa rasa bersalah, dan ketika kekerasan seksual menjadi “lelucon internal”, maka ini alarm genting, bahwa yang rusak bukan hanya individu, tapi sistem yang membentuk mereka.

Indonesia tidak sedang menghadapi krisis perilaku semata. Tapi juga menghadapi krisis ideologi.

Selama akar masalahnya tidak disentuh, selama sistem sekuler kapitalisme tetap dipertahankan, maka tragedi serupa hanya akan berulang dengan wajah yang berbeda, tapi luka yang sama.

Sudah saatnya kita berhenti menambal, dan mulai membongkar hingga ke akar. Karena generasi hari ini tidak butuh sekadar nasihat, mereka butuh arah nyata yang memuaskan & mencerdaskan akal serta mampu memenuhi kebutuhan fitrah mereka. Dan hal demikian hanya akan terealisasikan melalui penerapan aturan Allah di segala lini kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Al Maidah:49: “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka agar mereka tidak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Berita Terkait

Berikan Komentar