Guru Dikeroyok Siswa, Murid Dihina Guru: Potret Buram Sistem Pendidikan Kita

Oleh: Elzarina

Mediabogor.co, BOGOR – Peristiwa guru SMK di Jambi yang dikeroyok oleh muridnya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Kasus yang viral di media sosial ini, telah memantik perdebatan luas: siapa yang salah, guru atau murid?
Namun, bila dicermati lebih dalam, persoalan ini bukan sebatas konflik personal. Ini adalah gejala akibat krisis nilai dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Insiden tersebut bermula dari proses belajar-mengajar di kelas. Menurut keterangan guru yang bernama Agus, ia menegur siswa yang bertindak tidak sopan saat pelajaran berlangsung. Namun teguran itu justru dibalas dengan teriakan dan kata-kata tidak pantas dari siswa, sampai berujung pengeroyokan di luar kelas.
Sementara versi siswa juga perlu dicermati. Salah satu siswa, MUF, menyatakan bahwa guru yang bersangkutan kerap menggunakan bahasa kasar, menghina siswa dan orang tua mereka, bahkan melabeli murid dengan kata “bodoh” dan “miskin.” Ungkapan kedua pihak, menunjukkan adanya relasi yang telah lama bermasalah, bukan konflik yang muncul secara tiba-tiba.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan pelanggaran terhadap hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan UU Perlindungan Anak. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kekerasan—baik fisik maupun verbal—tidak dapat dibenarkan dalam ruang pendidikan.

Retaknya Relasi Guru–Murid.

Kasus guru dikeroyok murid tidak bisa direduksi menjadi sekadar luapan emosi atau kesalahan individu. Ini mencerminkan kondisi dunia pendidikan yang sedang mengalami kerusakan relasi secara fundamental. Hubungan guru – murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kepercayaan, justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, curiga, dan konflik laten.

Di sisi lain, tindakan murid yang mengeroyok guru menunjukkan hilangnya adab, rusaknya batas penghormatan, dan kegagalan internalisasi nilai. Murid tidak lagi memandang guru sebagai figur yang harus dihormati, melainkan sebagai pihak yang bisa dilawan bahkan diserang.

Namun, tentu tidak adil pula bila kita menutup mata terhadap fakta, bahwa sebagian guru mempraktikkan pendidikan yang keras secara verbal: mulai dari menghina, merendahkan, memberi label negatif, sampai mempermalukan murid di depan umum.

Kekerasan verbal semacam ini melukai psikologis, menumpuk dendam, dan merusak kepercayaan murid terhadap figur guru. Dalam kondisi demikian, konflik hanya menunggu pemicu.

Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran setan: guru kehilangan wibawa karena tidak lagi menjadi teladan, murid kehilangan hormat karena tidak mendapatkan kasih sayang dan keadilan. Kekerasan pun menjadi puncak dari relasi yang telah lama rusak.

Semua ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia adalah buah dari sistem pendidikan sekuler-kapitalis yang memisahkan pendidikan dari nilai-nilai agama, khususnya Islam. Pendidikan direduksi menjadi alat mencetak tenaga kerja dan mengejar capaian kognitif, sementara pembentukan adab dan akhlak dikesampingkan dengan porsi sangat sedikit, sekedar sebagai pelengkap, bahkan cenderung diabaikan.

Pendidikan Islam Berbasis Iman dan Akhlak

Islam memandang pendidikan sebagai salah satu persoalan mendasar dalam membangun manusia. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia beradab. Rasulullah saw. menegaskan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini menunjukkan bahwa akhlak bukan hasil sampingan pendidikan, melainkan tujuan utamanya.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), menghormati orang yang menyampaikan ilmu, dan menjaga sikap dalam majelis ilmu. Penghormatan ini bukan kultus individu, melainkan bagian dari penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.

Sebaliknya, guru memiliki kewajiban moral dan syar’i untuk mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Guru bukan algojo verbal yang bebas melukai dengan kata-kata, melainkan figur teladan yang menuntun dengan hikmah. Teguran dalam Islam bertujuan memperbaiki, bukan merendahkan.

Lebih dari itu, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama sistem pendidikan. Negara wajib memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap mata pelajaran—apa pun bidangnya—diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam.

Pendidikan tidak tunduk pada logika pasar semata, tetapi pada misi pembentukan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru adalah cermin buram pendidikan yang kehilangan nilai. Menyalahkan salah satu pihak tanpa membenahi sistem hanya akan melahirkan kasus serupa di kemudian hari. Selama pendidikan dijauhkan dari nilai Islam, selama iman tidak menjadi fondasi, konflik dan kekerasan akan terus berulang.
Islam menawarkan jalan keluar yang mendasar: pendidikan yang memanusiakan manusia, memuliakan ilmu, menempatkan guru sebagai teladan, murid sebagai amanah, dan negara sebagai penjamin lahirnya generasi beradab. Tanpa itu, sekolah akan terus menjadi ruang rawan konflik, bukan tempat tumbuhnya peradaban.

Berita Terkait

Berikan Komentar