Generasi Muda Takut Nikah, Alarm Gagalnya Sistem

Mediabogor.co, BOGOR – Fenomena banyaknya anak muda yang menunda pernikahan, bahkan enggan menikah, bukan hanya soal preferensi gaya hidup. Lebih kompleks dari itu, ketika harga kebutuhan pokok yang terus naik, sulitnya menjangkau harga rumah, ditambah persaingan kerja yang makin ketat.

Semuanya mengakibatkan kestabilan ekonomi menjadi syarat mutlak sebelum membangun keluarga. Diperparah adanya narasi “menikah itu menakutkan” yang terus bergaung di media sosial, membuat pernikahan dipandang seakan menantang resiko besar.

Bila ditelaah secara mendalam, akar permasalahan ini tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem kapitalisme. Dimana sistem ini telah membebankan seluruh biaya hidup kepada individu. Realita pekerjaan yang tidak pasti, upah yang sangat minim, dan ketidak jelasan jaminan sosial oleh negara, menjadikan anak muda dihantui ketakutan akan masa depan yang sangat jauh dari harapan.

Di sisi lain, pendidikan sekuler dan budaya konsumtif telah membentuk pola pikir dengan anggapan bahwa kebahagiaan hanya bisa lahir dari materi dan tercapainya kesenangan pribadi. Walhasil, pernikahan dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan jalan membangun keluarga yang kuat dan bermartabat.

Sudah saatnya negara berperan aktif dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat serta membuka sebanyak -banyaknya lapangan kerja. Selain itu pengelolaan sumber daya alam hanya boleh dilakukan oleh negara demi kemakmuran semua warga negara.

Swasta apalagi asing tidak boleh ikut mengelola sumberdaya alam. Karena korporasi pasti lebih mengejar keuntungan, akibatnya sudah nyata dirasakan sebagai mana terjadi saat ini. Rakyat terpaksa menanggung biaya hidup yang semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Selain itu sistem pendidikan juga perlu diarahkan untuk menanamkan nilai luhur keluarga dan tanggung jawab generasi penerus, terhadap kelangsungan peradaban. Sementara pendidikan saat ini hanya diarahkan sekadar mengejar kesuksesan materi semata.

Namun harapan di atas sulit terwujud dalam sistem Kapitalis sekuler, dimana negara hanya sebatas pembuat regulasi.

Berbeda dengan Sistem Islam yang menempatkan pernikahan sebagai sarana untuk melahirkan generasi penerus. Generasi yang akan menjadi pilar kelangsungan peradaban. Bila generasi muda terus merasa takut membangun keluarga, bisa dipastikan masa depan bangsa akan rapuh.

Sistem Islam memastikan negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan. Rasulullah Saw, pernah memberi kampak kepada seseorang dan memerintah kannya mencari kayu untuk dijual di pasar. Pada saat itu Rasulullah Saw adalah pemimpin Negara Islam di Madinah.

Jadi dalam Islam Negara bertanggung jawab penuh menyediakan peluang berusaha bagi rakyatnya. Oleh karena itu, Kita memerlukan sistem yang menghadirkan harapan, bukan kecemasan apalagi ketakutan dalam membangun keluarga.
Sistem Ideal itu adalah Sistem Islam.

Penulis : Elzarina

Berita Terkait

Berikan Komentar