Fenomena “Abrasi” Makna Idul Fitri Menurut Hidayatul Mustafid Ketua Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kota Bogor

Mediabogor.co, BOGOR – Setiap kali Ramadan berlalu, Syawal datang membawa euforia kemenangan. Idul Fitri dirayakan dengan penuh sukacita sebagai simbol kembalinya manusia ke fitrah yang suci. Momen ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga saat untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi, khususnya dengan keluarga dan kerabat.

Namun, sudahkah kita benar-benar meraih hakikat Idul Fitri? Ataukah kita hanya terjebak dalam ritual tahunan tanpa makna mendalam?

Makna Sejati Idul Fitri

Menurut Hidayatul Mustafid, M.Si., Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kota Bogor, secara harfiah, Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai seruan agar manusia kembali pada aturan agama. Fitrah manusia adalah kecenderungan untuk berpegang pada ajaran tauhid. Oleh karena itu, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen refleksi sejauh mana kita telah menjaga kesucian hati dan iman yang diperoleh selama Ramadan.

Ironisnya, makna Idul Fitri kerap mengalami pergeseran seiring waktu. Beberapa fenomena yang mencerminkan penyimpangan dari makna sejatinya antara lain:

1. Merasa Merdeka Setelah Ramadan Berakhir
Banyak yang melihat Ramadan sebagai “penjara” yang mengekang kebebasan. Begitu Syawal tiba, mereka seakan terbebas dari belenggu, merayakannya dengan pesta pora tanpa kendali. Fenomena ini telah diingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).” (QS. Al-A’raf: 179).

Orang yang terjebak dalam siklus ini tidak benar-benar memahami esensi Ramadan sebagai bulan pendidikan spiritual.

2. Mengklaim Kemenangan Tanpa Perjuangan
Sebagian orang mengklaim kemenangan Idul Fitri padahal selama Ramadan tidak melakukan perjuangan berarti, baik dalam ibadah personal maupun sosial. Mereka bahkan tetap menjalankan kebiasaan buruk, lalu tiba-tiba merayakan kemenangan dengan gegap gempita. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8).

Kemenangan sejati hanya bagi mereka yang benar-benar berjuang melawan hawa nafsu selama Ramadan.

3. Kesucian yang Hanya Tampak Luar
Idul Fitri sering diidentikkan dengan pakaian baru, makanan melimpah, dan perayaan besar. Namun, bagaimana dengan pakaian batin kita? Allah berfirman:

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).

Kesucian yang sejati bukan sekadar penampilan fisik, tetapi hati yang bersih dari kesombongan, iri, dan dengki.

4. Silaturahmi yang Hanya Formalitas
Silaturahmi dan saling memaafkan menjadi tradisi Idul Fitri. Namun, apakah maaf yang kita ucapkan benar-benar tulus? Ataukah hanya sebatas formalitas di media sosial? Rasulullah SAW telah memperingatkan tanda-tanda orang munafik:

“Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Silaturahmi yang hakiki adalah yang benar-benar membersihkan hati dari dendam dan prasangka buruk.

Mengembalikan Makna Idul Fitri

Agar Idul Fitri kembali ke makna sejatinya, kita perlu merenungkan kembali nilai-nilai yang telah diperoleh selama Ramadan dan mempertahankannya di bulan-bulan berikutnya. Hakikat kemenangan bukan terletak pada euforia sesaat, tetapi pada kesungguhan dalam menjaga kebersihan hati dan meningkatkan kualitas ibadah serta akhlak.

Semoga Idul Fitri yang kita rayakan bukan sekadar perayaan tanpa makna, melainkan menjadi pijakan untuk kehidupan yang lebih baik, penuh dengan nilai-nilai ketakwaan dan keikhlasan. (Ery)

Berita Terkait

Berikan Komentar