Bangga Kencana di Kabupaten Bogor, Achmad Ru’yat Tekankan Pentingnya Keluarga Berkualitas
Mediabogor.co, Bogor – Pembangunan keluarga berkualitas menjadi salah satu kunci dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Hal tersebut menjadi perhatian dalam Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja di Anjungan Restu Joglo, Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI H. Achmad Ru’yat, Penata KKB Ahli Muda BKKBN Provinsi Jawa Barat Marina Ayu Viniriani, serta Munandar Ahmad dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya ketahanan keluarga, kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, serta keterlibatan masyarakat dalam mencegah stunting sejak dini.
Achmad Ru’yat mengatakan, Program Bangga Kencana tidak hanya berkaitan dengan pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga mencakup upaya membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan mampu mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.
“Pembangunan keluarga merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa. Karena itu, keluarga harus mendapatkan perhatian, baik dari sisi kesehatan, ketahanan keluarga, maupun kualitas sumber daya manusianya,” ujar Achmad Ru’yat.
Menurutnya, berbagai persoalan pembangunan keluarga, mulai dari kesehatan reproduksi hingga stunting, membutuhkan penanganan yang melibatkan banyak pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan keluarga perlu bergerak bersama agar program yang dijalankan memberikan dampak nyata.
“Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, dibutuhkan langkah bersama yang terintegrasi, kolaboratif, dan berkelanjutan. Sinergi semua pihak sangat penting agar program pembangunan keluarga dapat berjalan efektif dan tepat sasaran,” katanya.
Ia berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong munculnya gagasan dan langkah konkret yang dapat diterapkan di tengah masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas keluarga dan mencegah stunting.
Sementara itu, Marina Ayu Viniriani menjelaskan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Upaya tersebut harus dimulai sejak masa remaja dan persiapan calon pengantin, berlanjut selama kehamilan, hingga anak melewati masa pertumbuhan awal.
“Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan hanya ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Edukasi dan pendampingan perlu dimulai sejak dini, dengan memperhatikan kesehatan serta kebutuhan gizi pada setiap tahap kehidupan,” demikian penekanan dalam materi yang disampaikan.
Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sesuai usia, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.
Dalam pelaksanaannya, Posyandu dan kader desa memiliki peran strategis untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kader dapat membantu memberikan edukasi, mengajak keluarga memanfaatkan layanan kesehatan, serta mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan tindak lanjut tenaga kesehatan.
Selain itu, pendataan keluarga berisiko stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pemerintah daerah dan pemerintah desa dapat menentukan sasaran intervensi secara lebih tepat.
Di sisi lain, Munandar Ahmad menekankan pentingnya keterlibatan Kader Desa Penggerak Keluarga Pencegah Stunting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Kader menjadi penghubung antara program pemerintah, tenaga kesehatan, dan keluarga di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kader memiliki peran penting dalam mendampingi keluarga, menyampaikan edukasi kesehatan, serta mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap pemenuhan gizi dan tumbuh kembang anak,” menjadi salah satu poin penting dalam pemaparan materi.
Ia menambahkan, edukasi kepada keluarga perlu mencakup pemeriksaan kehamilan secara rutin, konsumsi makanan bergizi, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, pemantauan pertumbuhan anak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Menurutnya, pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan. Dukungan orang tua, lingkungan masyarakat, pemerintah desa, dan berbagai pemangku kepentingan juga dibutuhkan agar upaya tersebut berjalan konsisten.
Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana ini, sinergi antara pemerintah, legislatif, BKKBN, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan semakin kuat. Edukasi yang berkelanjutan serta pendampingan terhadap keluarga berisiko menjadi langkah penting dalam mendorong peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Dengan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, program pembangunan keluarga di Kabupaten Bogor diharapkan mampu mendukung terbentuknya keluarga yang sehat, tangguh, dan berkualitas sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dini.
Berikan Komentar