200 Penari Semarakkan HUT RI, Panggung Inklusif BBI Hadirkan Keberagaman Budaya di Bogor
Mediabogor.co. BOGOR – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Bogor tak hanya berlangsung dengan upacara dan berbagai perlombaan. Semarak kemerdekaan juga diramaikan pertunjukan seni budaya yang melibatkan sekitar 200 penari dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertunjukan tersebut digelar Yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI) melalui kampanye “Tunjukkan Indonesiamu” di Ruang Riung, kawasan Alun-alun Kota Bogor, Sabtu (22/8/2026).
Kota Bogor menjadi titik penutup rangkaian roadshow kampanye tersebut yang sebelumnya telah menyambangi sejumlah daerah. Beragam kesenian Nusantara ditampilkan dalam pertunjukan yang berlangsung di ruang publik itu, mulai dari tari Jawa Barat, Betawi, Aceh, Sulawesi, Kalimantan hingga pertunjukan angklung.
Namun, pertunjukan kali ini memiliki keistimewaan tersendiri. BBI turut melibatkan anak-anak difabel yang merupakan siswa sekolah gratis binaannya di Bogor.
Keterlibatan tersebut menjadi pesan kuat bahwa seni dan budaya dapat menjadi ruang bersama yang inklusif, tanpa membedakan kondisi maupun latar belakang anak.
Founder Yayasan Belantara Budaya Indonesia, Diah Kusuma Wardhani Wijayanti, mengatakan pemilihan ruang publik sebagai lokasi pertunjukan memiliki arti penting. Menurutnya, anak-anak membutuhkan panggung untuk membangun keberanian sekaligus memperoleh apresiasi secara langsung dari masyarakat.
“Hari ini kita spesial banget membawa 200 penari. Untuk Tari Jawa Barat hanya satu ragam karena masyarakat setempat sudah sering menyaksikannya, dipadukan dengan pertunjukan angklung. Selebihnya kami tampilkan keberagaman tarian dari Sulawesi, Kalimantan, Aceh, hingga Betawi,” kata Diah kepada wartawan.
Diah menilai keberadaan panggung seni juga memiliki dampak lebih luas terhadap ekosistem ekonomi kreatif. Pertunjukan budaya, kata dia, dapat ikut menghidupkan berbagai sektor pendukung, seperti perajin topeng, kain tenun, kebaya hingga aksesori.
“Menari saja tanpa panggung itu seperti nothing. Anak-anak butuh ruang untuk tampil. Dampaknya itu dari hulu ke hilir, ada domino effect,” ujarnya.
Menurut Diah, ketika ruang pertunjukan terus tersedia, para pelaku usaha yang menopang industri seni dan budaya juga mendapatkan manfaat karena berbagai kebutuhan pertunjukan ikut menciptakan aktivitas ekonomi.
Bagi BBI, panggung bukan sekadar tempat mempertontonkan kemampuan para penari. Lebih dari itu, ruang tampil menjadi media pembelajaran untuk membangun kepercayaan diri, mengembangkan bakat dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada khalayak.
Selama 13 tahun berdiri sejak 10 Juni, BBI telah membina lebih dari 9.000 siswa serta mengelola 22 sekolah gratis di sejumlah wilayah. Di Bogor, yayasan tersebut juga memberikan fasilitas pendidikan bagi anak-anak difabel.
Berbagai prestasi telah diraih para siswa BBI. Mereka pernah ambil bagian dalam pertunjukan kolosal yang melibatkan sekitar 3.000 penari. Sementara siswa difabel BBI juga telah mendapat kesempatan tampil dalam Osaka Expo dan meraih Juara 1 pada ajang kebudayaan internasional di Korea Selatan.
Sementara itu, Penggagas Ruang Riung, Yuno Abeta Lahay, menyebut kehadiran BBI dalam rangkaian pertunjukan kemerdekaan merupakan salah satu agenda yang sengaja dipersiapkan untuk menghadirkan pertunjukan berbeda.
Menurut Yuno, BBI memiliki pengalaman panjang dalam mengelola pertunjukan sekaligus kepedulian terhadap anak-anak difabel. Karena itu, momentum perayaan kemerdekaan dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mempersembahkan pertunjukan tersebut.
“Tanggal 22 Agustus menjadi pilihan yang sudah kami siapkan, karena kami memahami bahwa melatih dan mendampingi anak-anak difabel tentu tidak mudah dan membutuhkan waktu,” ungkapnya.
Yuno menilai pengalaman BBI dalam berbagai pertunjukan juga menjadi keuntungan tersendiri dalam pelaksanaan acara. Tim BBI dinilai mampu mengatur alur pertunjukan, termasuk menentukan urutan penampil dan menjaga situasi tetap kondusif selama acara berlangsung.
Terlebih, kondisi anak-anak difabel dalam sebuah kegiatan publik dapat bersifat dinamis sehingga membutuhkan pendampingan dan pengamanan khusus.
Untuk memastikan keamanan selama pertunjukan, Ruang Riung bahkan menyiapkan barikade di sekitar area tampil. Yuno menegaskan, langkah tersebut bukan untuk membedakan anak-anak difabel, melainkan sebagai bentuk perlindungan.
“Kami dari Ruang Riung bahkan mengalokasikan anggaran lebih untuk memasang barikade. Bukan karena ingin membedakan anak-anak difabel dengan yang lain, tetapi semata-mata untuk menjaga keselamatan mereka,” jelasnya.
Menurut Yuno, pengamanan tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi perundungan maupun tindakan yang dapat mengganggu kenyamanan para peserta.
Ia berharap keberadaan Ruang Riung ke depan dapat terus berkembang menjadi ruang publik yang semakin aman dan ramah bagi seluruh kalangan.
“Jadi ini menjadi malam yang sangat spesial bagi kami. Mudah-mudahan ke depannya Ruang Riung dapat terus berkembang dan menghadirkan ruang yang semakin baik, aman, inklusif, dan nyaman bagi semua,” pungkasnya.
Berikan Komentar