Hipertensi, Diabetes, TBC hingga HIV Jadi Perhatian Utama, Dinkes Kota Bogor Perkuat Deteksi Sejak Dini

Mediabogor.co, ‎BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung cukup lama. Selain ancaman cuaca panas ekstrem, Dinkes juga menyoroti meningkatnya kasus penyakit tidak menular, tingginya angka tuberkulosis (TBC), HIV, stunting, hingga persoalan kesehatan mental anak.

‎Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuerana, mengatakan masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dengan menerapkan pola hidup sehat.

‎”Secara umum kita harus aware dengan perubahan cuaca. Kemarau panjang mungkin akan berlangsung cukup lama dan cukup ekstrem,” ujarnya Jum’at, 10 Juli 2026.

‎Menurut Erna, serangan akibat suhu panas yang tinggi dapat dicegah dengan kembali menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), seperti mengonsumsi makanan bergizi dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

‎”Yang harus diwaspadai adalah serangan karena panas yang tinggi. Cara mengatasinya kembali ke Germas, makan yang cukup dan minum air putih yang cukup, minimal delapan gelas sehari,” katanya.

‎Di sisi lain, Dinkes mencatat tren peningkatan kasus penyakit tidak menular dari tahun ke tahun. Beberapa penyakit yang mengalami kenaikan signifikan antara lain hipertensi, diabetes, kanker, stroke, dan gagal ginjal.

‎Erna menjelaskan, meningkatnya jumlah temuan kasus juga dipengaruhi oleh pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini menjangkau lebih banyak masyarakat.

‎”Apalagi sekarang dengan adanya Cek Kesehatan Gratis, kita melakukan pemeriksaan tekanan darah kepada masyarakat. Otomatis jumlah kasus akan meningkat. Tetapi kenaikan ini merupakan hal yang positif karena penyakit dapat diketahui lebih dini sehingga penanganannya bisa lebih cepat,” jelasnya.

‎Selain penyakit tidak menular, TBC paru masih menjadi perhatian utama Dinkes Kota Bogor. Erna menyebut Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC, sementara Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus tertinggi di Indonesia.

‎”Kota Bogor juga tinggi, tetapi itu karena deteksi kita tinggi. Kalau kita diam saja, kasusnya tidak akan ketemu,” ungkapnya.

‎Hal serupa juga terjadi pada kasus HIV. Menurut Erna, tingginya angka kasus di Kota Bogor tidak terlepas dari upaya aktif pemerintah dalam melakukan penelusuran dan pemeriksaan.

‎”HIV di Kota Bogor juga tinggi karena kita mencari kasusnya. Pada fase tertentu ini justru merupakan persepsi yang baik karena kita bisa menemukan lebih banyak kasus untuk segera ditangani,” katanya.

‎Dalam waktu dekat, Dinkes Kota Bogor juga akan melaksanakan program Cek Kesehatan Gratis khusus TBC secara masif, terutama bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan penderita.

‎”Kalau ada satu orang dalam keluarga yang terkena TBC, maka seluruh anggota keluarganya harus diperiksa,” tegas Erna.

‎Persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah stunting. Meski pada tahun lalu sekitar 500 anak berhasil keluar dari kondisi stunting, Dinkes menemukan munculnya kasus-kasus baru.

‎Hasil identifikasi menunjukkan, salah satu penyebab utama stunting baru adalah pola asuh yang belum optimal, terutama pada masa peralihan dari pemberian ASI ke makanan pendamping.

‎”Ternyata masih belum baiknya pola asuh dari ibu kepada anak, terutama saat berganti dari ASI ke makanan. Pada masa itu status gizi anak bisa menurun. Ini masih menjadi PR kita,” ujarnya.

‎Selain itu, Dinkes Kota Bogor juga memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak. Isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah menjadi salah satu fokus yang saat ini sedang ditangani melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi.

‎”Kesehatan jiwa menjadi perhatian kami, terutama pada anak-anak terkait kasus bullying. Kami sedang bekerja sama dengan RS Marzoeki Mahdi di beberapa sekolah untuk melihat kondisi kesehatan mental anak. Hasilnya nanti akan kami sampaikan jika sudah ada, tetapi ini menjadi atensi serius bagi kami,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berikan Komentar