
Jelang Abad Ke 2, Kebun Raya Bogor Gelar Festival Peduli Sampah 2017
Mediabogor.com, Bogor – Menyambut HUT ke-200 KRB dan HUT ke-50 LIPI, Kebun Raya Bogor menggelar Festival Peduli Sampah 2017 dengan tujuan untuk turut mensukseskan Indonesia Bebas Sampah 2020. Acara tersebut merupakan agenda calendar of Event KRB yang digelar secara rutin setiap tahunnya dan tahun ini mengambil team peduli sampah yang dalam waktu dekat ini bertepatan dengan Hari Sampah Nasional.
Menurut Kepala PKT (Pusat Konservasi Tumbuhan) Kebun Raya LIPI Bogor, Didik Widiyatmoko, kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia khususnya Kota Bogor. Khususnya untuk sampah plastik dan kaleng yang dibuang di lautan, Indonesia mencapai peringkat terburuk kedua di dunia.
“Intinya kita ada di urutan kedua dan itu sangat serius, dan setiap tahunnya KRB sudah sepakat untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan kepedulian pengelolaan sampah itu. Sampah KRB saja mencapai 10 ton per tahun, kategorinya hanya plastik dan kaleng saja,” ujarnya kepada mediabogor. com, (25/17).
Didik menambahkan, kalau KRB saat ini memasuki kategori tempat wisata yang sampah plastik dan kalengnya cukup signifikan. Sehingga, hal tersebut sangat menjadi perhatian. Tak hanya mengenai sampah, adapun kombinasi yang dilakukan pihaknya berupa pembagian 10 ribu bibit tanaman secara gratis kepada masyarakat yang sudah dilakukan tahun sebelumnya. Lanjutnya, hal itu dilakukan agar di samping hidup terbebas dari sampah, masyarakat pun dapat menikmati hidup secara sehat.
“Bibit tanaman dibagikan kepada komunitas petani, masyarakat umum dan ditanami di pekarangan, pinggir sungai, pinggir jalanan, dan sebagainya. Ini sudah jadi tekad kita dengan kombinasi dengan mengelola sampah dan membagikan bibit, mudah-mudahan menjadi penting kontribusinya KRB,” terangnya.
Adapun cara dalam penanggulangan sampah baik kaleng maupun plastik, kata dia, sementara ini, masih dilakukan dengan cara memilah sampah plastik dan kaleng. Tambahnya, pihak KRB sudah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor beserta masyarakat atau komunitas perihal pengelolaan sampah.
Nantinya, komunitas yang memiliki keterampilan khsusus dalam mengelola sampah dan memiliki hasil berupa nilai ekonomis yang akan ditampung dalamgarden shop KRB maupun di toko-toko koperasi KRB.
Masih kata Didik, perlunya kepedulian masyarakat untuk peduli terhadap sampah satunya dengan cara menampung hasil pengelolaan sampah di KRB. Hal ini dilakukan agar nilai ekonomis yang menimbulkan hasil nyata dapat terwujud. Selain itu, dari hasil tersebut juga diharapkan agar bisa melibatkan masyarakat lebih banyak lagi.
“Jadi, lebih kepada kepedulian, karena tingkat kepedulian masyarakat kita masih sangat rendah. Itu yang kita mulai dan tidak berhenti di sana. Dengan cara menampung sehingga akan lebih berlanjut. Selain menggalakan kepedulian, kita juga menampung hingga ada nilai ekonomi. Itu yang kita harapkan ke depan. Menampung dan bekerja sama secara real,” tegasnya.
Perihal ketersediaan alat pencacah sampah plastik, Didik mengaku, KRB masih belum memiliki alat instalasi yang dipergunakan untuk mencacah sampah plastik.
Melihat kondisi KRB yang setiap tahunnya digandrungi sampah berupa plastik dan kaleng sebanyak 10 ton, membuat angka pembuangan sampah secara sembarangan khususnya plastik pada KRB meningkat. Hal tersebut membuat pihak KRB setiap tahunnya memiliki target untuk mengelola sampah sebanyak 10 ton.
Selain tingkat kesadaran masyarakat yang minim, jumlah pengunjung KRB yang meningkat juga membuat peningkatan terhadap jumlah sampah yang ada. Parahnya lagi, selama ini sampah hanya dimasukkan ke penampungan saja, dan untuk alat yang dibutuhkan, pihaknya sudah bekerja sama dengan Pemkot Bogor.
“Kita akan mengalokasikan anggaran untuk alat pencacah plastik nantinya. Alat tersebut berasal dari KRB dan Pemkot yang mengelola. Masyarakat belum teredukasi, pendidikan lingkungan telah dilakukan KRB bahkan sangat intensif. Namun, tidak mudah
ternyata. Karena value kesadaran peduli sampah tidak mudah. Kita sangat gencar untuk lingkungan. Bahkan, KRB sudah meng-upgrade pendidikan lingkungan bisa lebih menarik dan inovatif. KRB tidak bisa berdiri sendiri, kita perlu pelajaran etika. Di sekolah harus benar-benar dipelajari, bahkan pendidikan moral harus digodog,” pungkasnya. (AW).
Berikan Komentar