
Kebakaran di Bojongnangka, Damkar: 15 Menit Ditinggal Api Nyala Kembali
Mediabogor.co, BOGOR – Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor masih terus melakukan pemadaman terhadap api yang membakar lapak ban bekas di Desa Bojongnangka, Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Restu (33) salah satu anggota Damkar Sektor Ciawi yang bertugas di lokasi mengatakan pompa air harus selalu disiramkan karena bila ditinggal sebentar, api akan kembali menyala karena bahan baku yang mudah terbakar.
“Ini harus disiram terus, karena 15 menit ditinggal, api kembali nyala lagi, kebakar lagi. Jadi harus disiram terus karena apinya ada di bawah,” kata Restu di lokasi, Selasa (27/4/2021).
Restu mengaku selama 9 hari berada di lokasi selalu merasa sesak napas dan mata perih lantaran asap tidak berhentinya mengepul di sekitar lokasi meskipun sudah memakai alat yang memadai.
“Di sini berdiri 15 menit saja paru-paru sudah penuh sama asap. Belum lagi baunya yang nyengat, saya sudah 9 hari disini ketemu asap buat sesak nafas dan sakit mata saya,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa kebakaran di Bojongnangka ini merupakan yang terparah yang pernah ia tangani selama empat tahun menjadi anggota Damkar. Bahkan untuk menjinakan api, selang setiap mobil pun harus disambung secara pararel untuk tetap menyiram.
“Ini paling parah menurut saja, biasanya 3 hari sudah selesai termasuk pendinginan. Ini saja seminggu lebih, 7 unit mobil Damkar harus sambung pararel 24jam nonstop siram air kita bergantian. Jam istirahat juga tidak menentu,” paparnya.
Terpisah, Komandan Sektor Cileungsi pada Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor Hendra, mengatakan saat ini tengah dilakukan proses pendinginan dan pemadaman terhadap tumpukan ban yang terakhir terbakar di kawasan tersebut.
“Hari ini masih proses pendinginan, tinggal setahap lagi satu tumpukan ban selebar 6 meter dengan tinggi 4 meter yang belum dipadamkan dan sudah masuk hari ke 9,” katanya.
Hendra menjelaskan kesulitan yang dihadapi Damkar dalam menjinakan api di lokasi seluas 1 hektare tersebut karena bahan baku berupa karet ban yang ditumpuk padat dengan ketinggian 3 sampai 4 meter.
Apalagi, titik api yang masih menyala berada di bawah tumpukan ban yang sulit dijangkau dengan pompa air Damkar. Bahkan, kata Hendra, hujan pun tidak mampu menembus rapatnya tumpukan ban lantaran titik api berada di bawah.
“Kesulitannya karena titik nyala api ada di bawah, kalau pakai pom air disiram tidak tembus ke bawah karena karet. Tekanan air kita saja tidak tembus, apalagi hujan rintik-rintik. Solusinya, kita kerahkan deco untuk mengeruk kemudian kita siram sumber apinya dan agak lama karena deconya hanga 1 unit,” jelasnya. (Mail)
Berikan Komentar