Hegemoni Global dan Matinya Kepemimpinan Bermoral

Oleh: Pietra Kharisma

Kehidupan penjuru bumi hari ini berjalan dibawah bayang-bayang satu poros kekuatan global; Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme sekulerisnya telah membuat narasi demokrasi melalui kebebasan bablasnya, dan hak asasi manusia dengan standar gandanya sukses melahirkan ketimpangan global yang semakin melebar. Konflik berkepanjangan tak kunjung usai, krisis ekologispun kian mengancam keberlangsungan hidup seluruh penghuni bumi, tanpa terkecuali.

Bagi siapapun yang masih memiliki akal & nurani yang sehat, dampak dari tatanan dunia kapitalistik hari ini semakin terasa nyata. Negeri-negeri dengan populasi mayoritas muslim yang kaya sumber daya alam justru terjebak dalam jerat penjajahan gaya baru: intervensi politik, ketergantungan ekonomi, dan penetrasi budaya yang secara perlahan melemahkan jati diri bangsa. Alih-alih merdeka dan berdaulat, negeri-negeri mayoritas muslim dipaksa tunduk pada kepentingan elit global. Politik global telah memperlihatkan bagaimana prinsip kedaulatan dan hukum internasional yang berlaku sering kali dikesampingkan ketika bertabrakan dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi global. Hal ini memperjelas sikap arogansi Amerika. Negara-negara lain yang menolak mengikutinya dipastikan mendapat ancaman, sanksi sepihak, hingga tekanan militer.

Keuntungan materi adalah tujuan fundamental bagi kapitalisme. Hasilnya? kemajuan technology berkembang bebas bablas tanpa melihat dampak jangka panjang bagi moral & semesta, alam dieksploitasi tanpa batas, ekosistem rusak, bencana ekologis terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi merata ke berbagai belahan dunia. Krisis iklim, pencemaran lingkungan, serta kerusakan hutan hingga laut bukan sekadar bencana alam, melainkan efek sistemik dari penerapan sekularis kapitalisme. Jadi, lagi-lagi akar masalah dari berbagai krisis hari ini bukan semata-mata karena individu-individu para penguasa, melainkan ada pada ideologi apa yang mendasari sistem hari ini berjalan?

Ideologi kapitalisme yang memimpin bumi hari ini telah jelas merusak tatanan kehidupan umat Islam khususnya – mulai dari akidah yang diasingkan, hal muamalah yang dikapitalisasi, hingga pendidikan yang kehilangan nilai luhurnya. Islam kehilangan fungsi sosial dan politiknya, moral diabaikan, keuntungan dunia dan kekuasaan menjadi penentu utama kebijakan. Padahal Islam, bukan agama yang melulu bicara mahdhah, tapi juga ideologi (mabda)- aturannya komprehensif mengatur seluruh lini kehidupan dari mulai pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, kesehatan, hingga politik.

Dalam konteks inilah umat Islam perlu melakukan refleksi mendalam. Sejarah dunia mencatat bahwa ketika Islam tampil sebagai pemegang kendali politik, ia tidak hanya melindungi kaum Muslimin, tapi juga menyuguhkan keadilan bagi seluruh manusia tanpa memandang agama dan etnis, bahkan alam terjamin kelestariannya.

Gagasan kepemimpinan Islam berdiri di atas prinsip amanah, keadilan, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Kekuasaan tidak digunakan untuk memupuk keuntungan segelintir elite, melainkan untuk memastikan distribusi kesejahteraan dan perlindungan terhadap manusia merata hingga ke seluruh alam.

Misi Kepemimpinan Islam yang rahmatan lil ‘alamin menutup ruang kedzaliman struktural, menindak tegas keserakahan, dan menempatkan hukum Allah sebagai landasan utama dalam pengambilan kebijakan politik. Sehingga, eksploitasi alam dan penjajahan diharamkan, hak-hak manusia dijaga bukan karena tekanan opini global, melainkan karena kewajiban syariat.
Sesungguhnya kemajuan sains & teknologi tidak menandakan majunya sebuah peradaban. Tapi kepemimpinan bermoral yang beramal sesuai syariat-Nya lah yang jadi tolak ukur majunya sebuah peradaban.

Dalam situasi krisis seperti sekarang, sejatinya umat muslim memiliki tanggung jawab intelektual dan historis agar kembali menawarkan Islam sebagai solusi, bukan dengan kekerasan, tapi melalui kesadaran, pemikiran, dan perjuangan ‘islam ideologis’ yang jujur dan beradab.

” Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (Q.S Al-Isra’ 17:16). Dan “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S Al-Araf: 96).

Jadi, sesiapa yang menginginkan tatanan kehidupan nan adil dan penuh rahmat-Nya, maka sudah saatnya memberi kesempatan-mempertimbangkan kembali kepemimpinan yang berpijak pada nilai-nilai Ilahi. Kepemimpinan Islam bukan hanya harapan muslimin, tapi juga harapan bagi kemanusiaan yang lelah ditindas oleh ‘sistem dingin’ yang rakus, dan tak bernurani.

Berita Terkait

Berikan Komentar